2020 - Apa Yang Bisa Disyukuri?

Artikel - Saat Merenung

Hari ini Amerika Serikat merayakan “Thanksgiving”- Hari untuk Bersyukur.  Saya tidak begitu tahu tentang perayaan ini sampai saya menjadi anggota OMI Provinsi Amerika Serikat delapan tahun yang lalu.  Saya pahami bahwa “Thanksgiving” adalah saat yang indah untuk berhenti, melakukan inventarisasi dan mengucap syukur dan terima kasih kepada Tuhan atas segala berkat yang didapat selama setahun ini.   Asal muasalnya perayaan ini adalah berakhirnya masa panen dan mengucap syukur kepada Tuhan atas buah-buah dari bumi. Saya mengundang Anda semua yang berada di luar Amerika Serikat untuk bergabung dalam semangat “Thanksgiving” hari ini.

2020 – apa yang mau disyukuri?  Pandemi, sakit, kematian, ketakutan, kebingungan karena situasi politik, ekonomi yang tak menentu, kelaparan…….. Bersyukur apa?

Ya, berterima kasih!  Di tengah begitu banyak kegelapan, saya mengundang Anda untuk berterimakasih atas Santo Eugenius dan karismanya yang telah melahirkan Keluarga Mazenodian.  Marilah kita bergabung bersama St. Eugenius dalam syukur yang ia ungkapkan pada penghujung hidupnya yang panjang dan penuh buah. Para Oblat adalah buah-buah pertama yang kemudian menjadi keluarga karismanya scara universal: “Pastikan untuk berkata kepada mereka bahwa aku meninggal dalam keadaan bahagia….. bahwa aku meninggal dengan bahagia karena Tuhan telah begitu baiknya memilihku untuk mendirikan Kongregasi Oblat di dalam Gereja.” (dikutip oleh Pastor J. Fabre dalam Surat Edarannya tahun1861)

Melalui teladan hidupnya dan pengajarannya, St. Eugenius menunjukkan pada kita bagaimana untuk tetap fokus pada Tuhan sebagai satu-satunya pondasi yang tak tergoyangkan, yang tak akan pernah hilang.

Untuk tetap fokus pada Yesus, Juruselamat kita, sebagai Terang kita, Pilot kita, Gembala kita yang tidak pernah menelantarkan kita.

Saya bersyukur bahwa semangat Eugenius terus-menerus menemani kita sehingga dalam kegelapan pandemi ini, kita dapat tetap fokus pada kekuatan kebangkitan yang tidak pernah bisa dihapuskan oleh pandemi.

“Jika kita membawa kematian Yesus di dalam tubuh kita, itu dengan harapan bahwa hidup Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kita (lih. 2Kor 4:10). Melalui pandangan Penyelamat kita yang tersalib, kita melihat dunia yang ditebus oleh darahNya, dengan suatu kerinduan bahwa orang-orang, yang di dalam diri mereka Ia terus bersengsara, akan mengenal juga kuasa kebangkitanNya (lih. Flp 3:10).” (Konstitusi dan Aturan Hidup OMI # 04)

Hari ini saya bersyukur atas Keluarga Mazenodian dan untuk kesempatan yang saya dapat setiap harinya untuk berefleksi atas kata-kata St. Eugenius dan membagikannya kepada Anda melalui “St. Eugenius de Mazenod Berkata” (website “St. Eugene de Mazenod Speaks" yang diasuh oleh Pastor Franc Santucci -red).  Saya berterima kasih kepada teknologi yang membuatnya menjadi mungkin dan membuat kita tetap terkoneksi.

2020 – apakah ada yang bisa disyukuri?  Banyak!  Hari ini saya bersyukur lewat cara yang khusus.  Bersyukur atas karunia setiap dari Anda.  Bersyukur atas koneksi lewat refleksi Santo Eugenius. Terima kasih Tuhan. Terima kasih St. Eugenius. Terima kasih kepada Anda!

 

(Penulis:  Pastor Frank Santucci, Kusenberger Chair of Oblate Studies, Oblate School of Theology, Amerika Serikat)

 

Diterjemahkan secara bebas oleh Tim Website OMI Indonesia dari artikel berjudul "2020 - What is There to be Thankful for?" yang terbit di www.eugenedemazenod.net

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.