Berdoa Rosario Bersama Santo Yosef

Artikel - Saat Merenung

Pada saat audiensi umum pada 01 Mei 2013, Paus Fransiskus mengingatkan kita tentang “Pentingnya dan keindahan berdoa Rosario Suci.  Saat mendaraskan Salam Maria, kita dituntun untuk berkontemplasi tentang misteri-misteri Yesus, yaitu, untuk berefleksi tentang waktu-waktu kunci dari hidupNya, sehingga, sama seperti Maria dan Yosef, Yesus menjadi Pusat dari pikiran-pikiran kita, Dia menjadi perhatian kita dan segala aksi kita.”

Untuk menggali inspirasi dari Rosario Santo Yosef, kami tawarkan kepada Anda lima misteri Santo Yosef, dengan meditasi dan komentar yang diambil dari Surat Apostolik “Patris Corde”.  Di akhir Rosario ini, kami mengundang Anda untuk mendaraskan Doa Oblat kepada Santo Yosef bagi panggilan para Oblat Bruder.

 

PERISTIWA PERTAMA:

Yosef Mendapat Mimpi dari Malaikat

 

Bacaan Injil:

Matius 1:18-21

 

Petikan dari Surat Apostolik Paus Fransiskus “Patris Corde”:

Seperti apa yang Allah kerjakan kepada Maria, ketika Dia mewujudkan rencana keselamatan-Nya kepadanya, demikian juga dia mewahyukan rencana-Nya kepada Yusuf; dan dia melakukannya melalui mimpi, yang di dalam Alkitab, seperti di antara semua bangsa kuno, dipandang sebagai salah satu sarana yang digunakan Allah untuk menyatakan kehendakNya.

Yusuf sangat risau oleh kehamilan Maria yang tidak dapat dipahami: dia tidak ingin “mencemarkan nama isterinya di muka umum,” tetapi memutuskan untuk “menceraikannya dengan diam-diam” (Mat 1:19).

Dalam mimpi pertama, malaikat membantunya memecahkan dilema beratnya: “janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Mat 1:20-21).

Yusuf segera menanggapi: “Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya” (Mat 1:24). Ketaatan memungkinkannya untuk mengatasi kesulitannya dan menyelamatkan Maria.

 

Doa:

Santo Yosef, engkau mendengarkan Tuhan dan Tuhan membukakan padamu rencana-rencanaNya.  Bersamamu, Bapa Yosef, kami percayakan kepada Tuhan para calon ibu yang belum menikah dan para pasangan yang bertunangan; Berikanlah kepada kami, ya Tuhan, keinginan untuk melakukan kehendakMu dan bukalah hati kami untuk menjadi siap sedia akan rencana-rencanaMu.

Bapa Kami…. Salam Maria….

 

PERISTIWA KEDUA:

Yosef membawa Maria ke rumahnya dan Yosef memberikan nama Yesus

 

Bacaan Injil:

Matius 1:22-25

 

Petikan dari Surat Apostolik Paus Fransiskus “Patris Corde”:

Yusuf menerima Maria tanpa menuntut syarat apa pun. Ia mempercayai kata-kata malaikat. “Keluhuran budinya membuatnya tunduk pada cinta kasih yang telah dipelajarinya melalui hukum; dan sekarang, dalam dunia di mana kekerasan psikologis, verbal, dan fisik terhadap perempuan tampak nyata, Yusuf tampil sebagai tokoh laki-laki yang penuh hormat dan peka, meskipun tidak memiliki segala informasi, dan memutuskan untuk melindungi nama baik, martabat dan hidup Maria. Dan dalam keraguannya tentang cara terbaik untuk bertindak, Allah menolongnya memilih dengan menerangi pertimbangannya.”

Doa:

Santo Yosef, engkau mengikuti kata-kata Malaikat dan memberi nama “Yesus” kepada Sang Bayi.  Bersamamu, Bapa Yosef, kami percayakan kepada Tuhan, para wanita korban kekerasan; Bangkitkanlah dalam GerejaMu, ya Tuhan, orang-orang yang tahu cara-cara menolong dan membimbing para wanita korban kekerasan, yang dapat mengambil keputusan sesuai dengan kehendakMu demi belas kasihMu yang lebih besar lagi.

Bapa Kami…. Salam Maria….

 

PERISTIWA KETIGA:

Kelahiran Yesus Kristus

 

Bacaan Injil:

Lukas 2:4-7

 

Petikan dari Surat Apostolik Paus Fransiskus “Patris Corde”:

Yusuf adalah orang yang melaluinya Allah menjaga permulaan sejarah penebusan. Ia adalah “keajaiban” sejati yang dengannya Allah menyelamatkan Anak dan ibu-Nya. Allah bertindak dengan mempercayakan pada keberanian kreatif Yusuf, yang setiba di Betlehem tidak menemukan tempat di mana Maria bisa melahirkan, ia mengatur sebuah kandang dan menatanya kembali sehingga sedapat mungkin menjadi tempat penyambutan bagi Putra Allah yang datang ke dunia (bdk. Luk 2:6-7). Berhadapan dengan bahaya yang akan datang dari Herodes yang ingin membunuh Sang Anak, sekali lagi dalam mimpi Yosef diperingatkan untuk melindungi Sang Anak, dan di tengah malam ia bersiap-siap untuk menyingkir ke Mesir (bdk. Mat 2:13-14).

Pembacaan dangkal dari kisah-kisah ini selalu menimbulkan kesan bahwa dunia berada di bawah belas kasihan yang kuat dan berkuasa, tetapi “kabar baik” Injil adalah dengan menunjukkan bahwa Allah selalu menemukan cara untuk mewujudkan rencana keselamatan-Nya, meskipun ada kesombongan dan kekerasan para penguasa dunia. Meskipun hidup kita tampak dalam belas kasihan kekuasaan yang kuat, tetapi Injil mengatakan pada kita bahwa yang penting adalah Allah selalu menemukan cara untuk menyelamatkan kita, asalkan kita menggunakan keberanian yang sama seperti tukang kayu dari Nazaret itu yang tahu bagaimana mengubah masalah menjadi peluang dengan selalu menaruh kepercayaan pada penyelenggaraan ilahi.

 

Doa :

Santo Yosef, engkau adalah seorang Bapa yang berani.  Bersamamu, Bapa Yosef, kami percayakan kepada Tuhan para bayi dan mereka yang hidupnya tercerabut ; berikan kami, ya Tuhan, keyakinan akan Penyelenggaraan IlahiMu dan gerakkanlah kami untuk berani sehingga muncullah niat baru untuk mewartakan Kabar BaikMu.

Bapa Kami… Salam Maria….

 

PERISTIWA KEEMPAT :

Pengungsian ke Mesir

 

Bacaan Injil :

Matius 2 :13-15

 

Petikan dari Surat Apostolik Paus Fransiskus “Patris Corde”:

Injil tidak memberitahu berapa lamanya Maria, Yusuf dan Anak tinggal di Mesir. Namun, tentu saja mereka harus makan, menemukan sebuah rumah, sebuah pekerjaan. Tidak perlu banyak imajinasi untuk mengisi sikap diam Injil mengenai hal ini. Keluarga Kudus harus menghadapi masalah konkret seperti halnya keluarga-keluarga lainnya, seperti banyak saudara migran kita yang bahkan saat ini mempertaruhkan hidup mereka yang dipaksa oleh situasi kemalangan dan kelaparan.

Dalam arti ini, saya percaya bahwa Santo Yusuf adalah sungguh seorang pelindung istimewa bagi mereka yang meninggalkan tanah air mereka karena peperangan, kebencian, penganiayaan, dan kesengsaraan.

Pada akhir setiap kisah yang memandang Yusuf sebagai pelaku utama, Injil menuliskan bahwa ia bangun, membawa Anak dan ibu-Nya, dan melakukan apa yang Allah perintahkan kepadanya (bdk. Mat 1:24; 2:14.21). Sesungguhnya, Yesus dan Maria ibu-Nya adalah harta pusaka iman kita yang paling berharga.

[…] Kita harus selalu bertanya pada diri kita sendiri apakah kita sedang melindungi dengan segenap kekuatan kita Yesus dan Maria yang secara misteri dipercayakan kepada tanggung jawab kita, pemeliharaan kita, dan penjagaan kita.

[…] Dari Yusuf kita harus belajar perhatian dan tanggung jawab yang sama: untuk mengasihi Anak dan ibuNya; mencintai sakramen-sakramen dan amal kasih; mencintai Gereja dan orang-orang miskin. Masing-masing dari realitas ini selalu adalah Anak dan ibu-Nya.

 

Doa :

Santo Yosef, engkau melakukan tanggungjawabmu.  Bersamamu, Bapa Yosef, kami percayakan kepada Tuhan kamu pengungsi yang tersebar di bumi ini ; bantulah kami, ya Tuhan, untuk membangun Gereja bagi dan demi kaum miskin, bantulah kami untuk memperhatikan kaum ibu dan melindungi anak-anak.

Bapa Kami…. Salam Maria…

 

PERISTIWA KELIMA :

Kehidupan di Nazareth

 

Bacaan Injil :

Lukas 2 :48-52

 

Petikan dari Surat Apostolik Paus Fransiskus “Patris Corde”:

Yusuf melihat Yesus bertumbuh dari hari ke hari “bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia” (Luk 2:52). Seperti dilakukan Tuhan kepada Israel, demikian juga Yusuf “mengajar-Nya berjalan, dengan memegang-Nya dengan tangannya: Bagi-Nya ia seperti seorang ayah yang mengangkat seorang anak ke pipinya, dengan membungkuk kepada-Nya untuk memberi-Nya makan” (bdk. Hos 11:3-4).

Yesus melihat kelemahlembutan Allah pada Yusuf: “Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia” (Mzm 103:13).

Yusuf tentu saja telah mendengar gema di sinagoga, selama doa Mazmur bahwa Allah Israel adalah Allah kelemahlembutan, [11] yang baik kepada setiap orang dan yang “penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya” (Mzm 145:9).

[…] Santo Yusuf adalah seorang tukang kayu yang bekerja dengan jujur untuk menghidupi keluarganya. Dari dia, Yesus belajar tentang nilai, martabat dan kegembiraan apa artinya makan roti yang merupakan hasil usahanya sendiri.

Di zaman kita di mana pekerjaan tampak telah kembali menunjukkan isu sosial penting dan pengangguran kadang mencapai tingkat luar biasa, bahkan di negara-negara yang telah mengalami kesejahteraan tertentu selama berabad-abad, dengan kesadaran yang dibarui perlulah memahami makna kerja yang memberi martabat dan yang dengannya Santo Yusuf menjadi pelindung yang patut diteladani.

[…] Yusuf telah melaksanakan peran kebapaannya sepanjang hidupnya. […] Kapanpun seseorang bertanggung jawab atas kehidupan orang lain, dalam arti tertentu ia menjalankan peran kebapaannya terhadap orang itu. […]  Logika kasih adalah selalu logika kebebasan. Yusuf mengetahui bagaimana mengasihi dengan kebebasan luar biasa. […] Kapanpun kita mendapati diri kita dalam posisi menjalankan peran kebapaan, kita harus selalu ingat bahwa ini tidak pernah menjadi pelaksanaan sikap posesif, tetapi menjadi suatu “tanda” yang merujuk pada kebapaan yang lebih tinggi.

 

Doa :

Santo Yosef, engkau mendampingi dan menolong Yesus untuk bertumbuh.  Bersamamu, Bapa Yosef, kami percayakan kepada Tuhan semua pendidik.  Bantu kami, ya Tuhan, untuk memelihara segala karyaMu, berikan kami sukacita seperti di keluarga Nazaret, dan berikanlah kepada kami rejeki yang yang berlimpah.

Bapa Kami…. Salam Maria…

 

Sebagai Penutup, dapat didoakan Doa Oblat kepada Santo Yosef untuk panggilan Oblat Bruder :

Santo Yosef yang kudus, kami bersyukur dan berterima kasih atas hidup misionaris dari seluruh Oblat-Bruder yang kami percayakan secara khusus ke dalam perlindunganmu.  Para Oblat-Bruder telah menjadi satu bagian integral dari sejarah evangelisasi Kongregasi kami di dunia ini.  Kami mohon kepadamu, Bapa Yosef, supaya engkau terus menginspirasi para Oblat-Bruder untuk menghidupi kharisma hidup bakti dengan ketaatan dan keaslian.  Kehadiran mereka, kesaksian dan pelayanan mereka menyatukan kami di jalan kerasulan untuk hidup sebagai saudara yang diikat oleh cinta kasih.  Bapa Yosef, pengenalanmu akan Yesus Kristus tercermin lewat kedekatan khusus pada Oblat-Bruder dengan kaum miskin dan yang paling terlantar yang menjadi kekhasan mereka. Kami mohon kepadamu, ya Bapa Yosef, agar engkau menjadi pengantara kami sehingga Kongregasi kami dapat terus menyambut kaum muda yang terpanggil menjadi Misionaris Bruder. Berbagilah bersama mereka kesetiaan, kemurahan hati, dan sukacita yang terwujud dalam hidupmu sehingga para Oblat-Bruder dapat terus berperan serta dalam karya misionaris dalam membangun Gereja. Amin. (bdk. Doa Oblat, 5. Pesta Santo Yosef, hal. 81-82)

 

(Diterjemahkan secara bebas oleh Tim Website OMI Indonesia dari artikel yang sama yang terbit di www.omiworld.org)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.