Kita adalah Pemegang Kehidupan

Artikel - Saat Merenung

Saudari-Saudaraku, dalam perikop Injil Markus 5:21-43, kita mendengar tentang Yesus yang menyembuhkan orang sakit.  Kata-kata yang sangat menyentuh saya adalah:

(1) ... datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus.  Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kakiNya dan memohon dengan sangat kepadaNya: “Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tanganMu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.”

(2)  Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan...  Sebab katanya: “Asal kujamah saja jubahNya, aku akan sembuh.”

Di hadapan kita, kita melihat dua orang yang memiliki iman yang besar: Yairus yang memohon Tuhan untuk menyembuhkan anak perempuannya yang sedang sakit parah, dan juga seorang perempuan yang menderita pendarahan selama 12 tahun yang sangat menderita bahkan banyak dokter tak dapat menyembuhkannya, dan ia telah menghabiskan semua yang dia punya tanpa ada kesembuhan, malahan kondisinya semakin memburuk.

Sekarang marilah kita melihat di sekeliling kita.  Saya pikir kita banyak menjumpai orang sakit, baik di dalam keluarga kita, atau teman-teman kita atau mungkin juga diri kita sendiri yang sudah putus asa dengan sakit yang kita derita.

Jika kita mengetahui ada yang sakit, apakah kita mau membawa mereka kepada Tuhan atau memohon Tuhan untuk menyembuhkan mereka?  Atau jika kita sendiri yang menderita sakit, apakah kita mau memohon campur tangan Tuhan, memintaNya untuk menyembuhkan kita?  Mengapa tidak?!

Tetapi pertanyaannya adalah: Apakah kita punya iman seperti Yairus?  Apakah kita percaya seperti perempuan yang sudah putus asa itu?

Mungkin beberapa di antara kita berpikir: “Ada banyak rumah sakit, ada banyak dokter, ada banyak obat, tak perlulah untuk meminta pada Tuhan.”

Tetapi dalam kenyataannya, banyak sekali penyakit yang tidak dapat ditangani oleh rumah sakit dan obat-obatan tak mampu menyembuhkannya.  Dan ada banyak penyakit yang membawa kita ke dalam kondisi yang serius, tanpa harapan dan tanpa jalan keluar.  Suatu hari akan ada saat para dokter berkata: “Saya sudah tidak tahu harus memakai cara apa lagi untuk bisa menyembuhkan Anda!”  Akan ada waktu kita hanya dapat memohon kepada Tuhan.  Saat kita berlutut dan menangis kepadaNya.  Kita berkata kepadaNya:  “Tuhan, kami sudah tidak tahu lagi apa yang harus kami lakukan, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, kami sudah mencoba segala macam cara, tetapi biarlah Tuhan yang memberikan yang terbaik untuk kami!.”  Pada saat itu, kata-kata Tuhan kepada kepala rumah ibadat, Yairus, akan terdengar nyaring di telinga kita:  “Jangan takut, percaya saja!”

Santo Paulus berkata kepada kita: “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinanNya.”

Kita diminta untuk percaya saja!  Tuhan telah memberikan kepada kita segalanya!  Dia menjadi miskin dan kita menjadi kaya.  Dia memberikan segalanya, segala karunia, bukan saja rahmat dan kesembuhan, tetapi di atas segalanya, Dia memberikan kepada kita kehidupan!

Kitab Kebijaksanaan mengatakan kepada kita, “Memang maut tidak dibuat oleh Allah, dan Iapun tak bergembira karena yang hidup musnah lenyap.  Sebaliknya Ia menciptakan segala-galanya supaya ada, dan supaya makhluk-makhluk jagat menyelamatkan.”

Ya, kita adalah pembawa kehidupan.  Percaya pada kasihNya, kemurahanNya; mohonlah bukan saja kesembuhan fisik atau spiritual, tetapi di atas segalanya, mohonlah kehidupan.  Hidup di dalam Dia, karena kesembuhan sejati adalah kehidupan, hidup di dalam Dia.  Percaya saja, jangan takut!  Amin.

 

(Penulis:  Pastor Henricus Asodo, OMI, Homili Minggu Biasa, 01 Juli 2018, di Gereja Misi OMI, Aix-en-Provence, Perancis)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.