Berpikir, Beriman, Bertindak

Artikel - Saat Merenung

Bacaan I:  1 Samuel 26:2, 7-9. 12-13, 22-23

Mazmur Tanggapan:  Mzm 103: 1-4, 8, 10, 12-13

Bacaan II: 1 Korintus 15:45-49

Bacaan Injil:  Lukas 6:27-38

 

Saya ingin memulai homili ini dengan tiga poin penting dari bacaan-bacaan hari ini:

(1) Dari Bacaan Pertama: “Tuhan akan membalas kebenaran dan kesetiaan setiap orang, sebab Tuhan menyerahkan engkau pada hari ini ke dalam tanganku, tetapi aku tidak mau menjamah orang yang diurapi Tuhan.”

(2) Dari Bacaan Kedua:  “Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi.”

(3) Dari Bacaan Injil:  “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.”

Singkatnya, hari ini kita diundang untuk mendengarkan pesan dari Firman Tuhan:  (1) untuk berpikir secara jernih; (2) untuk beriman secara agung; dan (3) untuk bertindak secara positif.

Dalam ajaran Buddha, kita mengenal 8 tahapan: (1) memahami secara benar; (2) berpikir secara benar; (3) berkata secara benar; (4) bertindak secara benar; (5) hidup secara benar; (6) berusaha secara benar; (7) memperhatikan secara benar; (8) konsentrasi secara benar.

Semua itu bukan utk hidup sehat, bukan pula untuk badan yang bugar tetapi untuk hidup dalam kebenaran, hidup yang benar-benar hidup.  Semua itu bukan pula untuk menjaga damai atau menciptakan keseimbangan, tetapi untuk hidup dalam iman sebagai seorang Kristiani.

Godaan selalu ada untuk mengambil dan mencampur-adukkan semuanya – segala nilai dan tradisi-budaya dari keempat penjuru dunia.  Tetapi sebagai seorang Kristiani, semua berakar pada Kristus, Sang Mesias yang adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup.  Kita semua ada di dalam Kristus.  Dia-lah pusat hidup kita, Dia-lah yang selalu menjadi awal dan akhir kita, keberangkatan dan kedatangan dari setiap perjalanan hidup kita.  Hari ini Dia berkata kepada kita: “Berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.”

Marilah kita ingat akan orang-orang yang pernah hadir dalam hidup kita; mereka yang telah menorehkan dalam hidup kita aneka luka, derita, masalah, dan lain sebagainya.  Ingatlah akan mereka yang kita cap sebagai “musuh”, orang-orang yang kita benci, orang-orang yang tidak ingin kita temui atau yang tidak ingin lagi kita ajak bicara, mereka yang ingin kita hapus dari hidup kita atau yang kepadanya kita ingin membalas dendam. Tuhan berkata kepada kita:  “Berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.”

Tetapi dalam kenyataannya, sebagai manusia, tidaklah mudah bagi kita untuk berlaku adil, untuk memaafkan, untuk berdoa atau berharap yang baik, untuk selalu positif.  Saya setuju sekali. Tetapi hal-hal demikian bukanlah mustahil!  Mengapa?  Karena kita tidak sendirian.  Kita bukan hanya seorang manusia – tetapi kita adalah ilahi.  Tuhan ada bersama kita!  Kita seperti Saul dalam Bacaan Pertama –  yang menerima urapan dari Tuhan.  Kita telah menerima Roh Kudus, Sang Ilahi yang hadir di tengah-tengah kita.

Bersama Roh Kudus dan dengan pertolongan-Nya, kita mampu untuk (1) berpikir jernih; (2) beriman secara agung; dan (3) bertindak secara positif.

(1)BERPIKIR SECARA JERNIH seperti Daud:  “Tuhan akan membalas kebenaran dan kesetiaan setiap orang, sebab Tuhan menyerahkan engkau pada hari ini ke dalam tanganku, tetapi aku tidak mau menjamah orang yang diurapi Tuhan.”

(2) BERIMAN SECARA AGUNG seperti kata St. Paulus:  “Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi.”

(3) BERTINDAK SECARA POSITIF seperti yang Yesus inginkan:  “Berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.”

Jangan patah semangat jika Anda merasa belum bisa berpikir secara jernih, beirman secara agung, dan bertindak secara positif.  Marilah kita mohon kepada Tuhan untuk mengirim Roh KudusNya yang akan menguatkan kita, mendorong kita, bahkan mengubah - jika perlu – hati kita, cara memandang kita, dan atau malah cara beriman kita.

Janganlah membiarkan Firman Tuhan berlalu tanpa berbuah karena reaksi kita:  “ Ini sulit, itu tak mungkin, saya tidak mampu...” tetapi sebaliknya, biarkan hati kita, mata kita, pikiran kita didiami oleh Tuhan, dengan FirmanNya, dengan Roh KudusNya.  Tak ada yang mustahil! Karena kita tidak sendirian, tetapi selalu ada bersama-Nya!

(Penulis:  Pastor Henricus Asodo, OMI, Homili Minggu Biasa VII, 24 Februari 2019, di Gereja Misi OMI, Aix-en-Provence, Perancis)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.