Menjadi Seperti Anak Kecil

Artikel - Saat Merenung

Bacaan Injil:  Markus 10:13-16

...

Salah satu Sabda Tuhan dalam Injil Markus 10:13-16 berbunyi: “Aku berkata kepadamu sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti anak kecil, dia tidak akan masuk kedalamnya.”

Apakah Kerajaan Allah itu?

Kerajaan Allah merupakan salah satu tema besar pengajaran/pewartaan Tuhan Yesus.  Di mana pun, ke mana pun Dia pergi, Dia sering berbicara tentang Kerajaan Allah.  Kerajaan Allah itu sama artinya dengan Allah yang meraja.  “Tetapi jika aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.” (Lukas 11:20).  Dalam diri Yesus, Allah datang ke tengah-tengah umat.  Dia mulai meraja di tengah-tengah umatNya.  Lalu, apakah dan siapakah anak kecil itu?

Yang namanya anak kecil pada umumnya polos, mudah percaya pada orang lain, sederhana, terbuka, mempunyai positif thinking,  mudah bergaul dengan  orang lain yang tampak baik kepada mereka, mudah diatur atau menurut, mau diberi contoh, mau kerjasama, penuh kekaguman, lincah, penuh tawa, mudah lupa alias bukan pendendam.  Baru 3 menit berselisih dengan temannya, eh, sudah asyik bermain bersama lagi. Bahkan ia bergantung pada orang dewasa. Di samping itu, apa yang membuat anak-anak datang kepada Yesus pada waktu itu?  Yesus itu baik dan lemah lembut pada anak-anak.  Selain itu, Yesus adalah seorang Guru yang sangat pandai bercerita.   Yesus punya banyak cerita. Dia punya banyak perumpamaan.  Kemungkinan besar, anak-anak suka mendengarkan dan memperhatikan cerita maupun ajaran dari Tuhan Yesus.  Maka ayat di atas bisa dirumuskan secara lain menjadi:  Barangsiapa tidak menyambut Tuhan Yesus seperti anak kecil, dia tidak akan mengenal sebenarnya siapa Tuhan Yesus itu.  Bagi kita kaum dewasa, menjadi seperti seorang anak kecil bukan berarti kita menjadi kekanak-kanakan yang dalam Bahasa Inggris disebut “Childish”.  Sedangkan menjadi seperti seorang anak, dalam Bahasa Inggris disebut “Like a little child”.  Kita menjadi seperti seorang anak artinya kita mengambil beberapa karakter positif yang ada dalam diri anak yang baik dan manis.

Seperti anak-anak, kita juga mau terbuka pada kehadiran Tuhan, sangat percaya pada Tuhan, merasa kecil yang artinya tidak merasa hebat di hadapan Tuhan, dan mau bersikap bersahabat dengan siapa saja.  Mengapa demikian?  Karena di dalam bersahabat dengan sesama, kita juga bersahabat dengan Tuhan.  Kita mau menyadari bahwa Tuhan juga hadir di dalam diri sesama yang sedang kita jumpai.

Sebuah cerita sebagai pemanis renungan ini.  Semoga inspiratif untuk kita juga:

Pada suatu hari seorang guru sedang bermeditasi di dalam sebuah gua di Pegunungan Himalaya.  Ketika dia membuka matanya, dia melihat seorang tamu yang tak pernah disangkanya sedang duduk di depannya, yakni seorang Abbas dari sebuah pertapaan terkenal.  “Anda mencari siapa?” tanya sang guru.  Abbas itu kemudian menceritakan sebuah kisah sedih.  Pada suatu ketika, pertapaannya termasyur di seluruh dunia barat.  Kamar-kamar pertapaannya penuh dengan para aspiran.  Gerejanya menggema dengan nyanyian para rahibnya.  Tetapi kini masa sulit menimpa biaranya itu.  Umat tidak lagi berbondong-bondong datang untuk menyegarkan jiwanya.  Orang muda yang terpanggil menjadi rahib hampir tidak ada.  Gereja menjadi sunyi.  Masih ada segelintir rahib yang bertahan.  Mereka menjalani tugasnya dengan berat hati.  “Apakah ini disebabkan oleh dosa-dosa kami?” tanya Abbas pada sang guru.

“Ya,” jawab sang guru.  “Dosa ketidaktahuan!”

“Dosa seperti apakah itu?” tanya Abbas itu.

Dan guru menjawab: “Seorang dari antaramu sebenarnya adalah Sang Mesias yang menyamar dan kalian tidak tahu akan hal ini.”

Sesudah mengatakan hal itu, sang guru menutup matanya dan kembali bermeditasi.

Abbas itu segera kembali ke biaranya.  Hatinya berdebar lebih cepat, dia tak habis pikir mengapa ia tidak mampu merasakan bahwa Sang Mesias ada di antaranya.  Sesampainya di biara, sang Abbas mengumpulkan semua rahibnya dan menceritakan hasil pertemuan dengan sang guru.  Setelah mendengar berita itu, mereka saling memandang tak percaya.  Namun sejak hari itu, mereka saling memperlakukan setiap orang dengan hormat dan baik.  “Kamu tidak tahu siapakah sesungguhnya orang yang bergaul dengan kamu.  Bisa jadi dia adalah Sang Mesias yang menyamar itu,” kata mereka kepada diri masing-masing.  “Kalau ternyata benar bahwa orang itu adalah Sang Mesias dan aku memperlakukannya dengan tidak sopan, aku sendiri akhirnya yang menyesal.”

Perlahan tetapi pasti, suasana di pertapaan itu menjadi penuh semangat kegembiraan.  Tidak lama kemudian, berpuluh-puluh orang muda kini masuk menjadi anggota biara itu.  Seiring perubahan ini, gereja pun kembali ramai dengan nyanyian suci para rahib yang mengumandangkan semangat cinta kasih.

 

(Pembawa renungan:  Pastor F.X. Rudi Rahkito Jati, OMI.  Disalin dari renungan Daily Fresh Juice, Sabtu, 02 Maret 2019.  http://dailyfreshjuice.net/02032019/)

 

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.