Deprecated: Call-time pass-by-reference has been deprecated in /home/omiindonesia/public_html/plugins/content/jw_disqus.php on line 40

Deprecated: Call-time pass-by-reference has been deprecated in /home/omiindonesia/public_html/plugins/content/jw_disqus.php on line 40

Hidup Kita Harus Berbuah

Artikel - Saat Merenung

Minggu Prapaskah III/Tahun C

Bacaan Pertama: Keluaran 3:1-8a, 13-15

Mazmur Antar Bacaan: Mazmur 103:1-4, 6-8, 11

Bacaan Kedua: 1 Korintus 10:6, 10-12

Bacaan Injil: Lukas 13:1-9

 

“Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu?... Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem?”

Saudari-Saudara, ada dua godaan besar dalam hidup rohani kita.

Godaan pertama mewujud dalam kata: hukuman.  Kita tergoda untuk berpikir dan percaya bahwa ada hubungan langsung antara kesusahan dan hukuman Tuhan: “Saya sakit karena saya berdosa; saya celaka karena Tuhan marah pada saya; Saya terbelit masalah ini karena saya tidak berada di jalan Tuhan” – dan seterusnya... Singkatnya, “Tuhan menghukum saya.”

Bacaan Pertama menunjukkan pada kita bukti bahwa Tuhan mencintai kita lewat yang dilakukanNya pada bangsa Israel.  Tuhan berkata kepada Musa: “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Iskhak dan Allah Yakub.... Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umatKu di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka.  Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.”

Saya tidak percaya bahwa Tuhan suka menghukum kita.

Dia menyelamatkan, bukan membinasakan kita!

Dia memberi kita hidup, bukan maut!

Dia mengampuni, bukan menghukum kita!

Dia membebaskan,  bukan membiarkan kita susah!

Dia peduli, bukan acuh tak acuh kepada kita!

Dia mencintai, bukan membenci kita!

Kemudian, godaan kedua mewujud dalam kata  “manusiawi”.  Kita tergoda untuk berpikir dan percaya bahwa Tuhan itu seperti kita, dan memperlakukan Tuhan seperti manusia, seperti salah satu dari kita.  Dia bertindak seperti kita, seolah setaraf dengan kita.   Janganlah lupa yang tertulis dalam Bacaan Pertama hari ini, Tuhan berkata kepada Musa:  “Aku adalah Aku.”  Dia-lah Allah, Dia bukan manusia; Dia Ilahi, dia bukan manusiawi.

Dua kata itu – hukuman dan kemanusiawian Tuhan – adalah sungguh dua godaan dalam hidup kita, khususnya hidup rohani kita.  Karena hal itu, kita jadi mandul, tidak berbuah, seperti pohon ara dalam Injil.  Hidup kita seperti pohon tanpa buah, hanya daun-daun saja!  Hidup yang seperti itu bukanlah kehendak Tuhan.  Hidup kita harus berbuah.  Seperti Musa yang mengemban misi bagi bangsa Israel, seperti pohon ara dalam Injil yang semestinya menghasilkan buah.

Jika kita sadar bahwa hidup kita tidak berbuah atau berbuah manun sedikit saja, marilah kita memohon rahmat Tuhan dan berani berkata – seperti yang dikatakan oleh pengurus kebun anggur dalam Injil hari ini:  “Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya.”

Masa Prapaskah adalah masa untuk menilik hidup kita, melihatnya dari dekat, mencangkul pohon kita, memberi pupuk sehingga kita dapat menghasilkan buah.

Marilah kita cermati apa yang dikatakan Santo Paulus dalam bacaan kedua: “Aku mau, supaya kamu mengetahui, saudara-saudara, bahwa nenek moyang kita  semua berada di bawah perlindungan awan dan bahwa mereka semua telah melintasi laut.  Mereka mengikuti Musa dan mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam air laut.  Mereka semua makan makanan rohani yang sama dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus.”

Kita juga sama.  Kita makan makanan yang sama, minum minuman yang sama dalam Ekaristi.  Seperti kata Santo Paulus, marilah kita menginginkan yang baik dan berhenti bersungut-sungut, dan jangan menyangka bahwa kita tidak memerlukan pertobatan tetapi  baiknya berhati-hati agar kita tidak jatuh.

Marilah kita melangkah maju... maju menuju Allah yang hidup.. Allah yang berbelas kasih... Allah yang tidak menghukum kita... Allah yang memberikan kita waktu untuk bertobat.

Dan yang sangat penting untuk dilakukan adalah:  Memuji dan mengagungkan Tuhan. Dia Maha Agung, penuh cinta, penuh belas kasih.

Itulah sebabnya saya mengundang Anda sekalian untuk berseru:

“Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah namaNya yang kudus, hai segenap batinku.  Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikanNya!” (Mazmur 103)

Mengapa tidak kita menyanyikan bersama: “Pujilah Tuhan, hai jiwaku; Jangan lupakan segala kebaikanNya.  Pujilah Tuhan, hai jiwaku; Pujilah Dia selama-lamanya.”

 

(Penulis:  Pastor Henricus Asodo, OMI, Homili Minggu Prapaskah III di Gereja Misi OMI, Aix-en-Provence, Perancis)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.