Pentakosta - Pembebasan dan Hidup Baru

Artikel - Saat Merenung

Dalam Buku Doa Gereja, tertulis sebagai nasihat praktis: “Pentakosta adalah perayaan yang diwajibkan!”  Pentakosta berarti 50 dalam Bahasa Yunani.  Pentakosta adalah hari raya penting dari bangsa Yahudi pada hari kelimapuluh setelah Paskah yang memperingati pembebasan mereka dari perbudakan di Mesir.  Bagi kaum Kristiani, Pentakosta adalah hari Roh Kudus memberikan hidup baru kepada semua orang, yakni Yesus yang telah bangkit dari kematian.

Oleh karena itu, sejalan dengan hal tersebut, saya mengajukan dua pertanyaan:  Apakah ada hubungan antara pembebasan dari perbudakan dan kebangkitan dari kematian?  Apakah ada hubungan antara Roh Kudus dan hidup baru?

Jawaban dari dua pertanyaan tersebut adalah, “Ya, tentu saja!”

Pentakosta adalah pembebasan dan hidup baru.

Anda dapat melihat perbedaan dalam diri  para murid dan para Rasul  antara sebelum dan setelah Pentakosta.  Roh Kudus adalah karunia pembebasan, keluar dari perbudakan, ketakutan, ragu-ragu, kesedihan, dan khususnya pembebasan dari belenggu.  Mereka tidak lagi terbelenggu, tidak lagi ketakutan, tidak lagi ragu-ragu, tidak lagi sedih.

 

Mereka siap untuk keluar, untuk pergi, dan untuk memberikan hidup mereka untuk mewartakan hidup baru, hidup sejati yang mereka temukan di dalam Tuhan, Sang Yesus Kristus yang bangkit.

Mereka sekarang menjadi orang-orang baru.

Lalu, bagaimana dengan kita?  Setelah 40 hari masa Prapaskah, 50 hari masa Paskah, apakah kita telah berubah?  Apakah kita telah bebas?  Apakah kita telah menjadi orang-orang baru?

Roh Kudus telah diberikan kepada kita.  Maka marilah kita hidup dalam kebebasan dari perbudakan, ketakutan, dan belenggu – aku menjadi budak….. - aku terkungkung dari belenggu…. – Hanya kita sendiri yang tahu jawaban untuk titik-titik tersebut!

Bacaan Pertama berkata: “Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus. Lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diilhamkan oleh Roh itu kepada mereka untuk dikatakan.”

Suasana bersama Roh Kudus adalah suasana sukacita, suasana penuh keberanian, dan suasana penuh pujian dan syukur atas segala hal ajaib yang dikerjakan Tuhan pada kita.

Roh Kudus tidak saja dilihat sebagai suatu kekuatan yang mempersatukan berbagai bangsa atau bahasa, atau malah di-identikkan dengan tenaga besar untuk jingkrak-jingkrak dan memuji Tuhan dengan menari dan menyanyi yang membuat bising atau ribut…..  samasekali bukan itu!

Tetapi Roh Kudus memperlihatkan kepada kita siapa kita ini; Dia menunjukkan martabat kita.  St. Paulus mengatakan dalam Bacaan Kedua: “Roh itu memberi kesaksian bersama-sama roh kita, bahwa kita ini anak Allah. Dan kalau kita ini anak, berarti juga ahli waris, yakni ahli waris Allah... jika kita menderita bersama dengan Kristus, kita juga akan dipermuliakan bersama dengan Dia.”

Marilah kita sadari martabat kita, dan marilah kita hidup sebagai anak-anak Tuhan.

Janganlah kita rendahkan martabat kita dengan menjadi hamba daging, atau budak dosa seperti kata St. Paulus.  Martabat kita itu ilahi, anak-anak Allah, bukan melulu manusiawi, anak-anak orangtua kita saja!

Jadi, marilah kita manfaatkan kekayaan, kesehatan, waktu, dan talenta kita untuk kemuliaan Tuhan.

Marilah kita bersyukur pada Tuhan untuk segala keajaiban yang terjadi dalam seluruh hidup kita ketimbang terus menerus  mengeluh, mengomel 24 jam per hari, atau mengkritik orang lain dan menutup diri untuk menghindari bertemu dengan sesama yang berbeda budaya, suku, atau kepercayaan.

Marilah kita berikan waktu kita, kekuatan kita, keberanian kita, energi kita, hati kita untuk mendekati sesama dan memuji Tuhan.

Janganlah kita lupa bahwa kita adalah para ahli waris Tuhan; martabat kita adalah anak-anak Tuhan baik di saat suka, sehat, atau pun di saat duka, sakit, susah lemah, dan saat-saat sulit. Kita tetap anak-anak Allah!

Janganlah lupa, kita selalu hidup Bersama Roh Kudus – Sang Pembela, Sang Penghibur, Sang Pembawa Damai – yang selalu ada di sekeliling kita.

Dia selalu ada bersama kita

Marilah kita hidup bersama Dia.  Jangan takut.  Jadilah berani!

 

(Penulis:  Pastor Henricus Asodo, OMI, dari Homili Hari Raya Pentakosta, Minggu, 09 Juni 2019, di Gereja Misi Perdana OMI, Aix-en-Provence, Perancis)

 

 

 

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.