Lentera Iman

0167

Tanda diminta untuk menjadi bukti kebenaran. Tidak cukup hanya mendengarkan ajaran dan menyaksikan secara langsung tindakan Yesus yang menyelamatkan. Aneka mukjizat yang dilakukan Yesus masih belum cukup menunjukkan kebenaran bahwa kuasa Yesus berasal dari Allah, bahkan Dia adalah Anak Allah. Mereka mencobaiNya berkali-kali seperti tindakan setan yang hendak menjatuhkan manusia. Tetapi Tuhan Yesus tidak tergoyahkan. Dia tetap setia sampai akhir. Apakah kita masih belum cukup percaya kepada Tuhan dan masih menghendaki tanda yang lebih besar lagi? Apakah kita juga mencobai Dia berulang kali yang mau menunjukkan bahwa kita meragukan Dia? Apakah peristiwa hidup kita bisa menjadi tanda kehadiran Tuhan? Kita perlu kecermatan dan kebijaksanaan untuk mampu mengenali kehadiran Tuhan dalam tanda yang sederhana sekalipun. Maka refleksi dan introspeksi diri tetap kita butuhkan untuk mengenali Dia yang setia hadir dalam hidup dan karya bakti kita. Rahmat dan berkatNya senantiasa kita harapkan. Semoga kita semakin peka terhadap sapaan kasihNya lewat sesama ciptaan, dan tidak ada lagi tanda yang lebih besar selain Dia yang hadir di tengah kita.

(Pastor Antonius Sussanto, OMI)

 

0166

Sudah jatuh tertimpa tangga, begitu istila hidup seorang yang sakit kusta. Secara fisik dia terkena penyakit; secara psikis dia menanggung beban mental; secara sosial dia ditolak, disingkirkan dan diasingkan; secara religius dia dikategorikan sebagai orang berdosa. Tidak ada pertolongan yang bisa diharapkan selain dari Tuhan yang mampu memulihkan segalanya lewat pernyataan seorang imam. Ada Imam Agung yang bukan hanya memulihkan, tetapi menyelamatkan dan menghidupkan. Maka semua orang layak untuk datang kepadaNya, memohon rahmat keselamatan, bersedia mengikuti Dia dan menjadi umatNya. Kita yang telah menyatakan diri untuk menjadi pengikutNya memiliki jaminan keselamatan. Iman dan pertobatan harus terus-menerus kita kembangkan. Kita tahu bahwa Dia mempunyai hati yang berbelas kasih, yang rela senasib-sepenanggungan dengan kita, yang akan menolong kita dalam menjalani kehidupan. Semoga kita setia dalam menghidupi komitmen kemuridan kita. Rahmat dan berkat melimpah tersedia bagi kita yang mau setia kepadaNya.

(Pastor Antonius Sussanto, OMI)

0165

Orang Farisi meminta tanda dari Yesus. Tanda apa lagi? Tidak cukupkah ajaran dan tindakan Yesus? Tidak puaskah dengan kehadiranNya? Tanda yang diminta bukan sekedar kata dan mukjizat, tetapi tanda dari surga yang membenarkan bahwa Yesus adalah Mesias yang dinantikan. Padahal Yesus sendiri dari surga, bahkan yang Empunya surga dan bumi beserta isinya. Inilah akibat hati yang tertutup oleh egoisme sehingga tidak mengenali yang dinanti. Buka mata, buka telinga dan buka hati agar mengenali kehadiran Sang Penyelamat Ilahi yang ada di sini sekarang ini.

(Pastor Antonius Sussanto, OMI)

 

0164

Hati menjadi pusat kepribadian dan menggambarkan keseluruhan hidup manusia. Dari dalam hati inilah muncul berbagai macam hal yang mendatangkan kebaikan maupun keburukan. Gagasan, perkataan, tindakan, sikap dan perilaku memancar dari dalam hati seseorang. Maka hati perlu kita didik dan kita olah agar membawa kebaikan, kedamaian, persaudaraan, dan cinta. Yesus dengan jelas mendidik kita agar mengelola hati kita. Bukan masalah makanan yang akan membuat kita sehat atau sakit, tetapi masalah hati yang akan mempengaruhi seluruh hidup kita. Kadangkala masalah makanan membuat kita ribut dengan sesama. Sebenarnya bukan makanannya, tetapi hatinya yang memang sudah membuat masalah. Mari kita belajar dari Yesus untuk memurnikan hati agar segala sesuatu yang kita lakukan dapat kita abdikan bagi kebahagiaan sesama dan kemuliaan Tuhan. Ya Yesus, jadikanlah hati kami seperti hatiMu sendiri. Amin.

(Pastor Antonius Sussanto, OMI)

0163

Benih itu telah ditabur, Sabda Tuhan telah diberikan dan Kerajaan Allah sudah hadir. Tanggapannya bermacam-macam, tergantung dari situasi hidup setiap penerima Sabda. Tetapi Sang Penabur tetap akan mengelola lahanNya. Sebab benih itu tidak akan tumbuh sia-sia. Dia akan tetap menghasilkan buah. Sabda Tuhan itu juga diberikan kepada kita. Bagaimana tanggapan kita? Apakah kita bersedia mengelola lahan hidup kita bersama dengan Tuhan? Dengan ketekunan dan kesetiaan, kita yakin bahwa Sabda Tuhan akan tumbuh dan berkembang dalam hidup kita. Semoga buahnya pun limpah dalam kehidupan dan dapat kita persembahkan kepada Sang Penabur dan berdaya guna bagi semua orang.

(Pastor Antonius Sussanto, OMI)

 

Artikel yang lain...

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

«MulaiSebelumnya12345678910SelanjutnyaAkhir»
Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.