Lentera Iman

0202

Tiada kebahagiaan tanpa pengorbanan, mungkin hal itu yang hendak dinyatakan oleh Tuhan. Dia sendiri telah berkorban demi keselamatan manusia. Kini Dia juga menghendaki agar kita bersedia berkorban bagi kebahagiaan bersama. Dalam berkorban, apa saja yang dapat kita renungkan? (~) Kecenderungan manusiawi: Kita memiliki kecenderungan untuk mempertahankan apa yang kita miliki. Kita juga memiliki hasrat dan kehendak untuk menjadi aman, enak, dan nyaman. Kita perlu mengelola kecenderungan tersebut agar selaras dengan kehendak Tuhan; (~) Dorongan untuk bermanfaat: Kita mempunyai keinginan untuk berguna bagi banyak orang, paling tidak kita ingin diakui keberadaan dan kiprah kita, ingin dihargai usaha, pemikiran, dan jerih payah kita. Yang ingin kita tampilkan adalah yang bermanfaat bagi kehidupan. Maka kita akan mengusahakan yang terbaik; (~) Mengikuti model: Kita mempunyai teladan dalam berkorban yaitu Tuhan Yesus. Dia menunjukkan diriNya sebagai Sahabat Sejati yang hanya menginginkan kebahagiaan dan kesalamatan sahabatNya. Jelas pengorbanan kita tidak akan setara denganNya, tetapi Dia tetap menghargai sekecil apa pun yang kita jalani. Semoga kita semakin rela mengikuti Tuhan di jalan pengorbanan agar damai dan sukacita tercipta dalam kehidupan bersama.

(Pastor Antonius Sussanto, OMI)

 

0201

Kebanyakan dari kita pernah berurusan dengan pajak, iuran, maupun pungutan. Tujuannya tentu demi kebaikan dan kesejahteraan bersama. Pelanggaran terhadap kewajiban ini tentu menimbulkan gangguan bahkan menjadi batu sandungan. Apa yang bisa kita renungkan? (~) Menjadi batu sandungan berarti tidak memenuhi ketentuan umum: Ada ketentuan yang sudah disepakati bersama. Namun ketentuan itu dilanggar atau tidak dilaksanakan. Kadangkala ada penyelewengan dalam pelaksanaan ketentuan. Yesus mengoreksinya sambil tetap ambil bagian dalam pemenuhan ketentuan; (~) Menjadi contoh menyikapi situasi: Yesus mengembangkan kepedulian sosial agar warga yang terikat kewajiban menunaikannya dengan tanggungjawab. Kadangkala ada yang main curang dalam menyelesaikan kewajiban demi keuntungan dan keamanan pribadi. tentu ini akan menganggu kesejahteraan bersama. Maka Yesus menyadarkan setiap orang agar peduli pada kebaikan bersama ini; (~) Kerendahan hati untuk menyongsong yang lebih besar lagi: Tuntutan yang lebih besar sudah dikatakan oleh Tuhan yakni peristiwa penyaliban. Ini harus dihadapi demi keselamatan manusia. Tuntutan menanggung salib bersama Tuhan juga menjadi peneguhan. Maka kita sambut dengan rendah hati sambil memohon Rahmat kekuatanNya. Semoga kita mampu melaksanakan tugas dan kewajiban dengan tanggungjawab dan sukacita.

(Pastor Antonius Sussanto, OMI)

0200

Apakah yang paling kita kuatirkan dalam hidup ini? Kepemilikan akan harta benda? Profesi, pangkat, dan jabatan? Kedekatan relasi dan komunikasi? Studi dan masa depan? Atau keselamatan? Apa pun itu, kita semua pernah merasa kuatir. Namun Tuhan memberi pesan agar kita tidak kuatir. Apa yang dapat kita renungkan? (~) Kuatir membuat tidak fokus: Hidup kita cenderung terbagi, tidak tenang dan mugnkin juga bingung. Adakalanya menjadi sulit untuk memegang komitmen. Maka kita diajak untuk melihat prioritas, mengabdi kepada Allah atau kepada mamon. Kita harus memilih dan dengan tegas bersikap; (~) Kuatir tanda kurang beriman: Orang yang kurang beriman cenderung meragukan Tuhan. Jaminan kehidupannya tidak dia percayakan kepada Tuhan. Hidupnya selalu kurag dan tidak pernah terpuaskan. Padahal Tuhan adalah Penyelenggara Kehidupan. Percaya dan berserah bukan berarti lemah, tetapi tanda siap sedia bekerja sama dengan Tuhan menciptakan kebahagiaan dalam kehidupan; (~) Kuatir dapat membelokkan jalan: Sebagai orang beriman apa yang ingin kita dapatkan? Seperti kata Tuhan, Kerajaan Allah dan kebenarannya kita dahulukan, baru semuanya akan ditambahkan. Bukan berarti kita tidak boleh mempersiapkan mimpi masa depan, tetapi supaya kita tidak menyimpang dan jatuh karena kekuatiran. Semoga kita semkain teguh dalam iman dan bersemangat dalam pengabdian.

(Pastor Antonius Sussanto, OMI)

 

0199

Bagaimanakah kita menjalankan kewajiban keagamaan kita? Apakah sekedar kewajiban atau sudah menjadi kebutuhan yang menyatu dengan kehidupan? Yesus mengingatkan para muridNya dan kita bisa belajar beberapa hal: (~) Kewajiban keagamaan: Tiga kewajiban disebutkan dalam Injil yakni sedekah, doa, dan puasa. Ketiganya menjadi bagian dri olah kesalehan yang berhubungan dengan Tuhan dan sesama. Kesungguhan dan ketulusan dalam melaksanakannya tentu akan membawa kedamaian dan kebahagiaan, kerukunan dan persaudaraan; (~) Motivasi: Untuk apa melaksanakan kewajiban keagamaan? Untuk pamer atau persembahan kepada Tuhan? Atau sekedar untuk pertunjukan, mencari popularitas, dan mendapatkan pujian? Tentu pelaksanaannya harus disertai dengan penghayatan agar murni bisa dipersembahkan kepada Tuhan lewat pelayanan kepada sesama; (~) Balasan Tuhan: Merupakan kebebasan Tuhan untuk menerima setiap persembahan dan menganugerahkan berkat bagi para umat. Tugas ktia adalah melakukan yang terbaik sesuai tugas dan perutusan kita masing-masing. Semoga hidup dan karya bakti kita menjadi persembahan kepada Tuhan dan membuahkan berkat bagi kita semua.

(Pastor Antonius Sussanto, OMI)

0198

Pembalasan lebih kejam dari pembunuhan. Sudah biasa bahwa sebuah perbuatan harus dibalas yang setimpal. Alasannya demi keadilan, meski yang namanya adil tidak harus selalu sama persis. Ketika terjadi pembalasan, permasalahan biasanya tidak akan pernah selesai. Pembalasan yang satu akan memicu pembalasan selanjutnya. Maka Yesus mengajak para murid untuk memutus rantai balas dendam dengan tindakan yang lebih bijaksana. Beberapa hal dapat kita renungkan: (~) Kerinduan mendasar: Setiap pribadi memiliki kerinduan untuk hidup tenteram dan damai. Pembalasan tidak dapat memenuhi kerinduan ini. Maka pengampunan lebih utama daripada pembalasan; (~) Pengendalian diri: Tidak mudah menerima dengan ikhlas perbuatan buruk yang dialami. Perlu kebesaran hati untuk mengendalikan diri agar pengampunan kasih bisa terjadi; (~) Totalitas dalam tindakan: Tidak tanggung-tanggung dalam mempromosikan pengampunan dan damai. Keadilan bisa diperjuangkan bukan demi sama rata dan sama rasa, tetapi demi kebahagiaan bersama. Semoga hidup kita semakin tenteram dan semakin kreatif dalam mengusahakan kebaikan.

(Pastor Antonius Sussanto, OMI)

 

Artikel yang lain...

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

«MulaiSebelumnya12345678910SelanjutnyaAkhir»
Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.